Entahlah,…hanya ingin menulis. Payahnya, aku ngak ingin menuliskan apa yang ada di pikiranku. Kenapa?..ngak tahu. Hanya sedang tak nyambung antara keinginan hati dan pikiran. Ide di otak sedang kebingungan dengan nasib mereka…diungkapkan atau dipendam???

Terkadang kita merasa kecewa dengan apa yang telah dan sedang terjadi di kehidupan kita. Rasa itu seringkali menyelusup tanpa disadari ke dalam hati kita tanpa permisi, memenuhi seluruh batin dan pikiran kita. Akibatnya akal sehat pun tergeser digantikan oleh emosi dan amarah yang membutakan mata.

Kalau sudah begitu, apa yang terjadi??? Yang pasti dunia terasa sempit.  Hal hal sepele pun menjadi terlihat besar dan bikin ruwet,..

Apa yang menyebabkan kita kecewa?.. nanti ah diterusin…ngantuk …

Seminggu sudah ramadhan telah berlalu. Setelah di evaluasi ternyata masih sangat sangat kurang daya juang dalam mencapai target ramadhan ini. Bahkan ada yang belum sama sekali tersentuh untuk dikerjakan. Hmm..harus ganti strategi nih..ngak bisa begini terus. Bisa amburadul deh.

Langkah pertama. Isi ulang pemahaman tentang target yang harus tercapai. Kedua,  bulatkan lagi tekad dan niat. Ketiga?…ini yang paling banyak godaannya. Pelaksanaannya bro..kalau ngak kuat bisa gagal. Mungkin harus mengurangi “permisi dan toleransi” pada diri sendiri.  Hati harus dipaksa kuat. Kuat..kuat..kuaaattt…, harruss bisssaa..pasti bisa!!! Ayo kamu bisa Ry!!!…bismillah.

Hari ketiga di bulan Ramadhan. Pergi ke kantor dengan perasaan campur aduk. Diare dan sakit kepala masih mengganggu.  Selain itu masih ada rasa yang mengganjal. Entahlah..tapi terasa tidak enak. Untuk menghilangkannya aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan memperbanyak tilawah dan membaca terjemahnya. Dan di setiap aku membuka lembaran secara acak dari Al Qur’an selalu kutemukan kata-kata “sabar” dan “berserah diri”. Ya Allah, kiranya Kau menyuruhku untuk bersabar dan menyerahkan semua urusanku kepada-Nya. Biarlah Allah yang menyelesaikan semuanya. Kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

Alhamdulillah setelah beberapa saat membaca akhirnya dadaku mulai terasa lapang dan kepalaku pun tidak seberdenyut seperti sebelumnya. Akhirnya kutemukan rasa yang sangat indah, tenang dan menenangkan. Ada kepasrahan di dalamnya. Dan rasa itu bertambah ketika harapanku terkabul. Sesuatu yang kuimpikan terwujud. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

Asli, hari ini rupanya jatahku tinggal di rumah. Ketika aku memutuskan pergi liqo, ternyata di sana tidak ada siapa-siapa. Umi pun belum pulang. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Hmm..ada apa ini?…sumber-sumber ilmu tidak bisa kudapatkan. Ada yang salah dengan aku??…waah..bahaya..astaghfirullah hal adzim!

Akhirnya aku pulang dengan istighfar sepanjang jalan. Takut ada kesalahan yang tak kusadari kulakukan. Betapa aku rindu untuk dapat taujih dari Umi. Tapi ternyata lagi-lagi aku mengambil pilihan untuk pulang tidak menunggu beliau. Kenapa ya aku hari ini selalu memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu?..duh betapa meruginya aku hari ini! Ya Allah ampuni hamba

Kemudian lagi-lagi aku mengambil pilihan yang sesudahnya kusesali. Harusnya aku tidak menanyakan kepada sahabatku tentang apa yang dilakukannya padaku. Kenapa aku tak mempercayainya?..duh jadi ngak enak hati. Maaf ya.

Ya Allah…ternyata pelajaran sabar dari  Mu belum bisa kutangkap dengan sempurna. Ternyata aku masih begitu rapuh dan mudah terbawa godaan pikiran yang tidak benar. Ampun Ya Allah. Bimbinglah hamba agar bisa tangguh dalam menjalani semua ini.

Hari ini agenda pagiku berantakan. Apa yang sudah kurencanakan dari seminggu sebelumnya tidak bisa kulaksanakan. Sebetulnya pagi ini ada dua kegiatan pelatihan yang harus kuikuti sampai sore. Setelah kutimbang-timbang aku memutuskan untuk mengambil salah satunya saja. Dari subuh aku sudah mempersiapkan diri untuk pergi,…tapi olala….pusing kepala dan diare ku tidak berkurang. Tidak begitu parah sih, kalau dipaksakan pun sebetulnya bisa pergi. Tapi tak tahulah hari ini aku menyerah dan memutuskan untuk tinggal di rumah.

Ini termasuk pilihan yang buruk ngak ya?..karena aku melepaskan ilmu yang penting untuk ku ketahui. Tapi suerr..aku berat untuk pergi. Ada alasan lain sebenarnya. Aku rindu berada di rumah. Jarang-jarang bisa tiduran, menulis di hari ahad pagi. Apalagi selama seminggu ini aku selalu pulang malam. Rata-rata jam 11 malam baru sampai rumah. Lelah!..Boleh ngak ya?…

Tapi walaupun di rumah, ngak begitu saja membuang waktu untuk tidur. Aku berusaha mencari ilmu lewat internet, membaca tulisan di situs situs islam. Alhamdulillah cukup banyak dapat ilmu juga.  Tilawah pun insya allah diperbanyak. Siang ini aku usahakan untuk pergi liqo. Mudah-mudahan pening kepalaku berkurang.

Semoga Allah mengampuni. Amiin.

Shaum Ramadhan sudah memasuki hari kedua. Selama dua hari ini aku berusaha meningkatkan ibadahku, memperbanyak baca Al Qur’an dan mencoba mengurangi kesia-siaan. Ada ujian kesabaran yang hampir-hampir membuatku lemah. Ujian kesabaran dari seseorang yang aku tak tahu sebabnya kenapa tiba-tiba seperti memusuhiku. Membalas salam pun tidak, ketika ditelepon pun tidak mau menerima, di sms tidak  menjawab. Entahlah, sungguh hal ini membuatku bingung dan sempat timbul lintasan pikiran suudzon. Tapi aku berusaha menepisnya dan mencoba berpikir positif. Mungkin benar dia sibuk, atau tidak punya pulsa barangkali??….siapa tahu.

Sedih?..sudah pasti, orang yang terbilang dekat terasa menjauh secara tiba-tiba tanpa diketahui sebab pastinya. Mauku sih,..kalau ada tindakanku yang berlebihan diingatkan. Kalau tidak mau bicara langsung, ya sms atau minimal memberitahu. Dengan mendiamkan begini aku tidak mengerti.

Tapi, biarlah. Mungkin ini peringatan dari Allah untuk aku memperbaiki diri dan juga melatih kesabaranku dalam menjalani episode kehidupan ini. Mungkin juga Allah sedang mendidikku untuk melepaskan ketergantunganku padanya.

Sekarang aku hanya berusaha untuk bersabar dan bersyukur atas kasih sayang Allah melalui kejadian ini. Aku tidak marah, karena tidak semestinya aku marah. Aku hanya bisa berdoa supaya suatu saat dia bisa memaafkanku dan silaturahim itu bisa terjalin lagi. Dan semoga dia selalu dilindungi oleh Allah dan dilimpahkan kebahagian dalam hidupnya. Dan aku juga mohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kelalaianku selama ini. Ya Allah, hamba mohon, berikanlah kami jalan keluar yang terbaik dalam masalah ini. Dan jadikanlah Ramadhan ini menjadi ramadhan terindah dan terbaik untuk kami. Amiin.

Masih saja aku tidak bisa melepaskan diri dari  ketergantungan pada makhluk. Padahal aku sudah paham betul akibatnya, pasti ada kekecewaan ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.  Tapi masih saja berulang-ulang kulakukan. Bandel ya aku..hehe..

Semalam sempat terhenyak ketika di ingatkan oleh pak Epi di Halaqah. Dan juga dibahas tentang hati yang terhijab. Subhanallah..apa yang menjadi kebingungan dan pertanyaanku dijawab oleh Allah melalui lisan pak Epi, padahal aku tidak bertanya pada beliau. Inilah salah satu cara Allah mengajakku berdialog, Allahu akbar!

Bahasan tadi malam betul-betul membuatku berkali-kali menghela nafas, membuatku begitu malu pada Allah. Betapa banyak sekali kelalaianku selama ini, betapa kurang ajarnya aku, tak tahu berterima kasih dan seringkali melalaikan-Nya. Duh, betapa banyak waktuku yang terbuang sia-sia selama ini. Semoga aku bisa segera memperbaiki diri. Bukan hanya niat tentu, tapi tentu saja dengan perbuatan. Semoga Allah memudahkan dan mengampuni kelalaianku. Bimbing hamba agar layak dihadapan Mu ya Allah. Amin.

Sedang menyusun target masa depan. Hmm..ternyata tak semudah yang kita kira. Target harian, target mingguan, target bulanan,.gampang dibikin, sulit dikerjakan..duuuh. Baca buku aja ngak khusyu. Banyak sekali yang harus dievaluasi ternyata. Yaah…hanya aku yang bisa memperbaiki diri. Mohon doanya saja buat semua.

Kejadian demi kejadian akhir-akhir ini terasa sedikit melelahkan, membuat hati dan pikiran terkuras, terkonsentrasi ke apa yang sedang terjadi. Bukan sesuatu hal yang menyenangkan, bahkan cenderung memprihatinkan. Tapi dibalik semua itu banyak sekali hikmah yang dapat kuambil. Menemani seseorang yang berusaha keras melepaskan diri dari sebuah masalah yang sangat pelik, yang melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga hati dan emosinya benar benar luar biasa. Ada pertentangan batin di sana,..di satu sisi dia ingin lepas, tapi di sisi lain ada keengganan untuk keluar dari zona nyaman yang terlanjur mengikat.

Berkali-kali dia gagal untuk menguatkan niatnya. Apa yang diupayakannya malah semakin menyiksanya. Sering apa yang diucapkannya tidak bisa direalisasikan dengan perbuatan. Hampir-hampir dia putus asa dan kelihatannya akan menyerah. Tapi alhamdulillah, Allah tidak membiarkan hambanya yang berserah diri tenggelam dan kehilangan harapan. “Tangan-Nya” segera menariknya ke dalam pelukan-Nya yang penuh kasih. Akhirnya dia dapat bangkit kembali. Walaupun belum bisa seratus persen pulih, tapi setidaknya telah berhasil mengendalikan dirinya untuk kembali meluruskan niatnya.

Aku jadi merenung,.jika aku yang mengalami peristiwa itu,..apakah bisa setangguh dia?..sedikit pesimis..hiks. Tapi aku berharap tidak akan mengalaminya..hehe.. . Ada beberapa pelajaran yang kudapat dari peristiwa ini:

1. Jaga hati. Kadang-kadang kita terlena dalam suatu suasana yang nyaman. Padahal belum tentu nyaman itu aman.

2. Jaga sikap. Seringkali orang salah menafsirkan sikap kita.  Ada kalanya sikap baik kita diartikan lain oleh orang lain, yang tanpa disadari menimbulkan suatu ketergantungan pada kita. Yang membuat kita sulit untuk melepaskan diri dari sana.

3. Jaga lisan. Tidak semua uraian kata kita diterima seperti yang kita niatkan. Salah persepsi, salah paham, kadang-kadang tidak bisa dihindarkan. Niat hati memberi motivasi, diterima sebagai bentuk perhatian lebih. Akibatnya timbul angan-angan yang tak semestinya.

4. Jaga pikiran. Jangan biarkan pikiran kita terbawa hanyut oleh angan-angan aneh yang seharusnya tak ada. Kendalikan rasa agar tetap di jalurnya.

5. Jaga hijab. Sudah waktunya kita mengevaluasi kembali pergaulan kita selama ini. Benarkah hijab kita sudah terjaga? (mengingatkan diri sendiri..hiks).

Semoga apa yang telah terjadi bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga bagi dia terutama, bagiku,..dan bagi pembaca tulisan ini. Tidak ada kejadian yang buruk jika kita mengembalikannya kepada Allah. Tidak ada hal yang sia-sia ketika kita berani mengambil sisi positifnya dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Masa lalu biarlah berlalu..tapi jangan lupa ambil hikmah dari dalamnya buat bekal saat kita melangkah menyongsong masa depan kita yang cerah!..amiin.