Ini adalah salah satu kenangan berharga yang kualami di Jepang. Suatu sore di bulan April tahun 1998. Saat aku pulang ke asrama setelah selesai kerja kulihat banyak orang di kantor asrama. Ketika akan menyimpan sepatu di loker, tiba-tiba terdengar suara Bapak Asrama memanggilku. “ Ry san, chotto,..” (Ry, sebentar) katanya. Aku pun segera menghampiri dan masuk. Di dalam kantor ada dua orang tamu Jepang dan sepuluh orang berkebangsaan Brazil. “Ini adalah penghuni baru asrama. Semuanya orang Brazil keturunan Jepang. Tapi mereka samasekali tidak bisa berbicara B. Jepang ataupun B. Inggris”, begitu kata Bapak Asrama. Kemudian beliau berbicara kepada tamu Jepangnya yang ternyata mereka adalah penterjemah B. Portugal. Beliau juga memperkenalkan pada mereka bahwa aku adalah guru dan penterjemah B. Jepang untuk orang Indonesia disana. Terlihat mereka mengangguk-angguk sambil tersenyum dan menyapa “Hallo”, katanya setelah mendapat penjelasan dari penterjemahnya.
Keesokan paginya ketika akan berangkat kerja, aku kembali bertemu dengan mereka. “Hallo!”, Sapa mereka. Aku pun balas “Hallo”. Cuma itu yang bisa dikomunikasikan. Waktu aku berjalan menuju kantor, tanpa setahuku ada salah seorang dari mereka mengikutiku. “Hallo,..hallo,..” katanya. Aku menoleh dan menunjuk ke hidungku sebagai isyarat “kamu memanggilku?” (Kebiasaan orang Jepang kalau mengatakan tentang dirinya dengan menunjuk hidungnya. Kalau kita, orang Indonesia biasanya menunjuk dada kita). Ia mengangguk dan menghampiriku. Lalu ia mengulurkan tangannya, “Shizue”, katanya. Oo..ternyata ia mengajakku berkenalan. Aku pun mengulurkan tanganku. Selanjutnya ia ‘nyerocos’ dalam B. Portugal. Aku hanya bengong, dan kugoyang-goyangkan tanganku. “Sorry” kataku. Akhirnya dia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. (Mungkin geli lihat wajahku yang full bingung) dan berkata.”bye..bye..”.
Tadinya kusangka dia akan kapok bicara denganku, tapi ternyata sorenya dia kembali mengikutiku dan seperti biasa cas cis cus dalam bahasanya. Awalnya aku kesal dan hampir putus asa karena kemanapun aku pergi dia selaluuu ada di belakangku.Tapi, “Ting!” akhirnya aku dapat akal. Ku ajak dia ke kamarku. Ku ambil selembar kertas dan pinsil, serta kuberikan padanya. Bengong sejenak, akhirnya dia mengerti yang kuinginkan. Diambilnya pinsil dan mulai mencoret-coret kertasnya. Ternyata dia menuliskan kata Brazil, gambar pesawat terbang, kata Jepang dan gambar jam yang arah jarum jamnya menunjukkan angka 12. Kemudian di bawahnya ada tulisan Indonesia – Jepang, gambar jam dan “?”. Hi..hi.. rupanya dia ingin menerangkan tentang berapa lama dari Brazil ke Jepang jika naik pesawat terbang dan menanyakan berapa lama kalau dari Indonesia ke Jepang.
Sejak saat itu kami selalu membawa buku dan pinsil jika berkomunikasi. Aku sengaja membeli buku kamus B. Jepang – B.Portugal, selain untuk memudahkan pembicaraan, juga karena jadi tertarik ingin mempelajarinya. Dari obrolan-obrolan dengannya (walaupun lebih banyak “tulalit”nya dari pada ngertinya..), ternyata banyak kesamaan antara B. Indonesia dengan B. Portugal. Ini mungkin karena banyak bahasa kita yang diserap darinya ya! Seperti contohnya kemeja = kamiza (aduh, maaf tulisannya pasti salah-salah dech, soalnya saya hanya dengar bhs. Lisannya aza,..he..he..). , bank, bangku, jendela..dan masih banyak lagi. Tapi ada juga yang sama pengucapannya tapi artinya jauuuh sekali bedanya. Contohnya, mereka menyebut kantong keresek itu “sakola”, padahal kan itu kalau dalam bahasa sunda mah artinya ‘sekolahan’. Masih ada lagi lainnya, pokoknya menarik dan kadang-kadang bikin geli dech!
Ada banyak pengalaman lucu. Salah satunya adalah ketika suatu hari dia datang ke kamarku dan berkata, “Ry san, iku suupaa braziw” katanya. Rupanya dia mengajakku pergi ke supermarket Brazil. Saat itu dia sudah mulai bisa sedikit-sedikit bicara B. Jepang walaupun susunannya masih sangat amburadul, hanya bisa kata per kata saja. Aku pun mengiyakan. Dan kami pergi naik kendaraan dari supermarket tersebut Di tengah jalan tiba-tiba mobil berbelok ke sebuah klinik. Lho?? Melihat aku bingung dia menunjukkan bahu kanannya dan berkata “itai” (sakit) katanya.
Kuikuti langkahnya ke dalam. Di meja pendaftaran, ada kertas isian yang harus di isi. Dia lalu menyerahkannya padaku sambil memberikan KTP nya minta diisikan. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya dia dipanggil. Dan dia menarik tanganku supaya mengikutinya. Dokter yang ada di klinik itu sudah cukup kukenal . Wajahnya sedikit berkerut ketika melihat kami. “Sakit apa?” tanyanya. Temanku melirik padaku. Lalu aku bilang “Bahu kanannya sakit dok”. “Sejak kapan?”, mulai deh bingung ngejelasinnya. Sambil sedikit garuk-garuk kepala, lalu kucolek dia dan menunjuk bahunya, “itai” (sakit), lalu aku tunjuk kalender yang ada di ruang pemeriksaan. “Hah?” Tanyanya. Sekali lagi aku bilang, itai, lalu ku tunjuk angka-angka di kalender itu. “Oo” katanya lalu dia menunjuk beberapa angka disana. Ketika kami berbalik kembali menghadap dokter dan perawat, ternyata mereka sedang terbengong-bengong. “Kamu bukannya penterjemah dia?” Tanya dokter. “Bukan dok”. “Kamu ngerti B. Portugal?” “Enggak dok”. “Lho, kenapa kamu bareng sama dia?” Tanya dokter lagi. Lalu kujawab,”Saya juga bingung dok, dia tadi ngajak ke supermarket ko’ bukan ke sini”. Kontan pak dokter geleng-geleng kepala sambil menahan senyum. “Orang-orang yang aneh. Nggak bisa ngomong ko’ bisa akrab”, katanya. “Pakai bahasa hati ya?”. Iya ya, mungkin dokter itu benar. Kami komunikasi dengan bahasa hati. Kalau hati yang bicara, dari yang nggak nyambung pun bisa jadi nyambung!
Dari asalnya hanya kenal biasa lama-lama menjadi makin akrab. Dari hari ke hari kemampuan B. Jepang nya pun makin baik. Alhamdulillah. Tapi tetap, kalau ada apa-apa pasti aku yang dipanggil untuk menjadi penterjemahnya. Bukan dari B. Jepang ke B. Portugal, tapi dari B.Jepang yang baik dan benar ke B.Jepang “rada amburadul” yang dimengerti oleh dia. Padahal penterjemah aslinya ada. Nggak tahu kenapa orang-orang Jepang disana lebih suka menyuruhku untuk membantunya. Mungkin karena wajahku beuti? (beungeut titaheun???..he..he..B. Sunda ieu mah!).
Ketika aku harus pulang ke Indonesia rasanya sedih sekali berpisah dengannya. Dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Selama ini dia hidup sebatangkara. Orang tua dan kakaknya sudah meninggal dunia. Dia pun nampaknya merasakan hal yang sama. Menangiis terus. Setahun bersama banyak hari-hari ‘ceria’ yang kami lalui. Dan dalam kurun waktu itu dia menunjukkan minat yang sangat besar terhadap agama Islam. Pernah berkali-kali dia bilang ingin belajar shalat, ingin belajar puasa. Setiap aku shalat, dia selalu memperhatikan dan banyak bertanya tentang berbagai hal berkaitan dengan agama kita.
Di tahun yang sama sejak kepulanganku, saat liburan musim panas di bulan Agustus 1999, dia datang ke Indonesia dan menginap di rumahku selama seminggu. Hasilnya?, pas kembali ke Jepang dia sudah pintar B. Sunda!!..mungkin karena setiap hari bergaul dengan keluarga dan tetanggaku. Dia sempat mengutarakan ingin tinggal di Indonesia dan ikut denganku. Tapi sayang, pengurusan dokumen-dokumennya lumayan rumit. Akhirnya dia pun kembali ke Jepang dengan wajah sedikit kecewa.
Tahun 2000 aku dinas kembali ke sana. Betapa terkejutnya aku ketika tidak menemukan dia di asrama. Ketika kutanyakan, katanya beberapa hari sebelum aku datang dia diberhentikan karena sakit. Memang, Shizue adalah seorang pegawai kontrak, bukan pegawai tetap. Duh, sediiih sekali. Kutanya dimana tempat tinggal barunya, tapi ternyata katanya dia sudah kembali ke Brazil. Menurut temannya, sakitnya cukup parah. Selain darah tinggi dan kolesterol, dia juga mengalami gangguan pada punggungnya sehingga susah untuk berjalan.
Dengan bantuan teman Brazil ku yang lain, aku mencoba mencari tahu keberadaannya dengan meneleponnya pada salah seorang kerabatnya di Brazil Tapi ternyata dia tidak ada di sana.Sampai sekarang aku kehilangan jejaknya. Dimana dia berada, sehat kah, sakit kah? Biasanya dia rajin sekali berkirim surat, tapi tiba-tiba menghilang. Surat yang ku kirim pun kembali lagi. Aku sungguh kehilangan!! Walaupun beda bangsa, beda agama, beda bahasa, tapi entah kenapa hati kami rasanya dekaaat sekali. Semoga dia baik-baik saja, dimanapun dia berada. Amin.
Catatan:
1. Itai = sakit untuk salah satu anggota badan. Misalnya sakit kepala (atama ga itai).
2. Byouki = sakit secara umum. Misalnya saya sakit. (watashi wa byouki desu).