Arsip Bulanan: Agustus 2007

Kamis, 23 Agustus 2007

“Teteh, kenapa?”, terdengar suara seorang ‘adik TC’ ku dengan suara tersendat.”Teteh jangan sakit!”, akhirnya kudengar isak tangisnya di hp ku kemarin pagi. Tak lama kemudian telepon rumahku berdering.”Teteh sakit apa?, kenapa nggak bilang-bilang”, demikian terdengar suara seorang ibu setengah baya dengan suara cemas. Selain itu puluhan sms masuk pada waktu yang hampir bersamaan, dan telepon pun terus-menerus berdering.

Hari ini ketika aku pulang kerja, seorang ibu sudah menungguku. Kulihat wajahnya penuh kekhawatiran. “Teh, kenapa masuk kerja, istirahat dulu!” katanya. Dan kemarin, sahabatku yang sebetulnya masih harus beristirahat sehabis operasi, memaksakan diri nekat menengokku.

Ya, Allah, betapa sahabat-sahabatku begitu peduli padaku!!, betapa malu dan bodohnya aku yang telah menyia-nyiakan kesehatanku. “Mendzolimi” ususku sehingga luka disana-sini, ya, “infeksi usus yang cukup parah” kata dokterku.

Di tengah sakit, aku merenung. Ada hikmah apa sebenarnya di balik semua ini. Kutelusuri kejadian demi kejadian…….., akhirnya aku menemukan jawabannya!
Beberapa waktu terakhir ini aku merasakan semangatku menurun drastis (baca tulisan “ada apa denganku?”). Entah kenapa rasanya ‘jenuh’ dan ‘lelah’. Sampai-sampai pernah terlintas di pikiranku untuk berhenti dan meninggalkan semuanya. Namun akal sehatku terus-menerus mengingatkanku untuk tidak menyerah. Dengan sisa-sisa semangat yang ada aku berusaha untuk menyemangati diri sendiri sambil berdoa semoga Allah berkenan memberiku semangat yang lebih dari sebelumnya.

Dan sekarang, melalui sakitku ini aku sadar, betapa Allah telah menjawab doaku dan memberikan semangat baru melalui sahabat-sahabatku yang luar biasa! Betapa ruginya aku jika harus kehilangan mereka yang menyayangiku! Walaupun sebagian besar hanya berkomunikasi lewat miscall dan sms, tapi disadari ataupun tidak sebuah ukhuwah telah terjalin dengan kuat. Subhanallah!!!
Ya Allah, semoga aku bisa mengemban amanah dari Mu ini dengan sebaik-baiknya. Mohon doa dari semuanya. Amin.

Hari Senin yang “aneh!!!”. Aku melewatkan hari ku ini dalam diam. Dari pagi sampai menjelang sore , “Diam, diam, dan diam”.. (Bukan apa-apa, abis aku mau ngomong sama siapa??? Atasan ku dinas ke Jakarta, temanku ke kantor pajak. Sedangkan kami di ruangan cuman bertiga. Dua nggak ada, ya Aku lah tinggal sendirian. Nggak mungkin toch ngobrol sama meja??..hi..hi….).

Aww!!!!…tadi pagi mukaku di cakar si enos!!! (sorry Nos, sakit ya ekornya ke injek!!!)

Orang yang tidak pernah memuji Allah atas nikmat air dingin yang bersih dan segar itu, maka ia akan lupa kepada-Nya jika mendapatkan istana yang indah, kendaraan yang mewah, dan kebun-kebun yang penuh buah-buahan yang ranum.

Orang yang tidak pernah bersyukur atas sepotong roti yang hangat, tidak akan pernah bisa mensyukuri hidangan yang lezat dan menu yang nikmat. Orang yang tidak pernah bersyukur bahkan kufur, maka tidak akan pernah bisa membedakan antara yang sedikit dan banyak. Tapi ironisnya, tak jarang orang-orang seperti itu yang pernah berjanji kepada Allah bahwa ketika nanti Allah menurunkan nikmat kepadanya dan menyirami mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, maka mereka akan bersyukur, memberi, dan bersedekah.

{Dan, di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).}.
(QS. At-Taubah: 75-76)

Setiap hari kita banyak melihat manusia model ini. Hatinya hampa, pikirannya kotor, perasaannya kosong, tuduhan kepada Rabb-nya selalu yang tidak senonoh, yang tidak pernah memberi karunia yang besar lah, tidak pernah memberi rezeki lah, dan lainnya. Dia mengucapkan itu ketika badannya sangat sehat dan serba kecukupan. Dalam kemudahan yang baru seperti itu saja, dia sudah tidak bersyukur. Lalu, bagaimana jika hartanya melimpah, rumahnya indah, dan istana yang megah telah menyita waktunya? Pasti dia akan lebih kurang ajar dan akan lebih banyak durhaka kepada Rabb-nya.

Kita masih merindukan rumah itu, yang sudah ada di depan mata
Bagaimana jika kita berjalan selama sebulan dengan sahabat kita?

Orang yang bertelanjang kaki, karena tidak punya alas kaki mengatakan, “Saya akan bersyukur jika Rabb-ku memberiku sepatu”. Tapi orang yang telah memiliki sepatu akan menangguhkan rasa syukurnya sampai ia mendapatkan mobil mewah. Kurang ajar sekali: kita mengambil kenikmatan itu dengan kontan, namun mensyukurinya dengan mencicil. Kita tidak pernah bosan mengajukan keinginan-keinginan kepada-Nya. Tapi perintah-perintah Allah yang ada di sekeliling kita lamban sekali dilaksanakan.

Sumber: La Tahzan hal. 414-415

Sifat yang menonjol dalam diri Rasulullah adalah kedamaian jiwa, keridhaan, dan optimistisnya. Beliau selalu memberikan kabar gembira, melarang membebani diri dan lari dari tanggung jawab. Beliau tidak mengenal putus asa. Senyuman selalu mengembang di bibirnya, keridhaan selalu bersarang di dalam dadanya, kemudahan ada dalam syariatnya, kesahajaan ada dalam sunahnya, dan kebahagiaan ada dalam agamanya. Keinginannya pun sangat sederhana: menghapuskan beban dan belenggu yang memberatkan umatnya.

Sumber: La Tahzan hal. 412.

Hidup penuh dengan perubahan. Ada siang – ada malam, ada untung – ada rugi, ada suka – ada duka,…ada gula ada semut..(eh, bukan ketang ini mah peribahasa…)….

Terinspirasi dari tema “share & care” kemarin pagi, rasanya ingin juga berbagi nich! Waktu itu ada “adikku” yang masuk dan berbagi tentang kecemasannya dalam menghadapi penyakitnya. Pengalaman yang sama pernah ku alami sampai berkali-kali harus merasakan ‘tajamnya’ pisau bedah. Terakhir dua bulan lalu aku harus menjalani serangkaian test untuk mendeteksi kemungkinan adanya tumor dan kanker. Tapi alhamdulillah, hasilnya bisa dikatakan cukup bagus, meski dengan beberapa catatan medis.

Sampai tahun lalu, ketika aku harus menjalani operasi lagi, tidak terbersit sedikit pun di benakku ada perasaan khawatir ataupun takut. Aku rasanya ‘enjoy-enjoy’ saja. Yang merasa cemas justru orang tua, saudara-saudara, dan sahabat-sahabatku. Mereka banyak mengingatkanku untuk berhati-hati.

Tapi ketika harus menjalani test bulan lalu, entah kenapa aku merasakan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa. Timbul rasa tidak siap kalau seandainya hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Gelisah! Cemas! Wah, pokoknya nano-nano, alias rasanya rame dech!!!

Apa yang menjadi kecemasanku? Entahlah, tapi ada rasa khawatir aku akan tidak bisa berbuat lebih banyak untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Masih banyak rencana-rencana besar dalam kepala yang belum bisa diwujudkan untuk mereka. Selama ini aku merasa kurang berbakti. Sering kulalaikan mereka, walaupun hanya untuk sekedar ‘ngobrol ringan’saja kadang-kadang aku tidak punya waktu. Naudzubillahimindalik!.

Kira-kira seminggu dalam penantian keluarnya hasil lab, lahir sebuah perenungan yang dalam. Sebenarnya aku ini siapa? Kenapa aku sering begitu ‘sombong’ terhadap diri sendiri? Baru diuji dengan hal yang belum pasti saja aku sudah merasa ‘ciut’ apalagi jika ternyata yang ditakutkan itu menjadi kenyataan? Apa yang bisa kubanggakan selama ini? Aku ini tidak ada apa-apanya tanpa kasih sayang Allah!

Akhirnya aku sadar bahwa aku harus segera mengubah banyak hal dalam hidupku. Yang pertama aku harus lebih menghargai hidup. Selama ini terlalu banyak bagian dari hidupku yang kusia-siakan. Kedua, waktuku tidak banyak untuk bisa membahagiakan orang tuaku. Aku sudah kehilangan ibu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk bisa berbakti pada bapak dan ibuku. Ketiga, sudah bukan saatnya berleha-leha, sekaranglah waktunya untuk bekerja keras memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada Illahi.

SEKARANGLAH SAATNYA UNTUK BERUBAH!

Sudah beberapa hari ini aku selalu kesiangan bangun, dan hampir-hampir ketinggalan shalat tahajjud, akibatnya banyak sahabat yang tidak ku bisa kubangunkan untuk shalat.

Tadi malam ketika jam setengah tiga aku terjaga, entah kenapa ya ko` aku lupa mau ngapain, akhirnya ketika hp ku berdering, baru ingat tugas ku untuk miss call sahabat yang lain. Ada apa ya dengan aku???? Kayaknya ada yang salah dech! Tapi aku belum bisa menemukan jawabannya sampai sekarang.

Hari ini aku mengawali hariku dengan sebuah duka dan keterkejutan yang mendalam. Betapa tidak, ketika baru mulai me-miss call beberapa orang temanku untuk tahajjud, tiba-tiba terdengar suara Operator ‘pulsa anda tidak cukup….’. Lho? Kataku dalam hati. Masa sih, kan baru kemarin sore aku isi pulsa. Dan malamnya sebelum tidur kira-kira jam dua belas, masih kulihat ada sisa saldo sekitar dua puluh enam ribuan. Penasaran, ku pijit tombol *888#, Ya Allah, kenapa sisa pulsa ku tinggal Rp. 390,- saja?????? Segera ku cek apakah ada pemakaian lama atau gimana…atau siapa tahu aku ngelindur nelepon sambil tidur.., tappi…tidak ada yang aneh tuch! Ko` bisa sih? Sediiiih sekali rasanya plus kaget..get..get….

Diawali dengan duka seperti itu dan dibarengi dengan kegelisahan dari suatu persoalan yang kemarin belum terpecahkan aku melangkahkan kakiku keluar rumah menuju tempat kendaraan jemputanku menunggu. Sepanjang perjalanan menuju kantor kucoba menenangkan hatiku dengan berdzikir dan berdoa mohon diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi masalah di depanku. Duh,…makin dekat kantor kucoba untuk makin khusyu berdoa…Ya Allah,..tolong!!!

Aku pun tiba di kantor. Sambil menunggu bel berbunyi .(hi.hi..kayak di sekolahan aza ya!) ku coba buka-buka file mencari dokumen yang kuperlukan. Ternyata tak ketemu. Aduh, makin gelisah aku!!

Akhirnya bel masuk pun berbunyi. Dengan bismillah kuberanikan diri menghadap atasanku. Kuceritakan runtutan peristiwanya. Kusangka beliau akan marah. Tapi,……ternyata beliau sama sekali tidak marah!!!!! Malah mendukungku. Wah, saat itu dunia rasanya langsung berubah menjadi cerraaahhh!!!! Segalanya terlihat menjadi indah! Alhamdulillah!!! Segera aku pergi ke musholla dan langsung syujud syukur. Hilang sudah dukaku yang tadi menggayuti kepalaku dan berganti dengan keceriaan.

Rupanya tidak sampai di situ saja Allah menghiburku. Tiba-tiba temanku datang menghampiri dan berkata. “Aku mau bayar utang sama kamu”, katanya. Wah, padahal aku sudah lupa karena dia memang pinjamnya sudah sangat lama, dan aku pun sudah merelakannya kalau seandainya dia lupa membayarnya. Alhamdulillah.

Kebahagiaanku bertambah ketika aku menerima e-mail dari sahabat lamaku yang memberi informasi tentang kakak angkatanku yang sudah lama kucari-cari alamatnya. Beliau adalah salah satu orang yang telah ‘mengubah hidupku’ dengan mengenalkanku lebih dekat pada Islam sewaktu aku masih di bangku kuliah. Dan aku kehilangan jejaknya sejak beliau di wisuda. ALLAHU AKBAR!!!, Ya Allah, aku bahagia!!!! Terima kasih ya Allah!!!!

Hidup memang tidak lepas dari masalah. Setelah selesai masalah satu muncul masalah yang lain. Malah kadang-kadang yang satu belum selesai, yang lain muncul dan muncul lagi. Numpuk dech jadinya seperti tumpukan sampah yang ada di pasar dekat rumahku. Kalau dibiarkan begitu saja lama-lama mengeluarkan bau yang,..mmmhhh….ruarrr biazzzzaaaa !!!, dan keluarlah si belatung-belatung, ..iyyy!!!

Ibarat sampah, demikian juga masalah. Bisa bikin stress, depresi, bahkan banyak juga yang bikin orang jadi “ketawa-ketiwi sendiri” (aduuh, jangan sampai dech seperti itu …).

Hidupku pun tidak terbebas dari masalah. Warna-warni kehidupan yang sering kali bikin ‘gerah’ sekaligus pengen ‘nyerah’. Kalau lagi jatuh ke ‘titik terlemah’ nya seringkali jadi suka ngeluh ke Allah, “Kenapa ko’ saya diberikan cobaan seperti ini. Ko’ orang lain kelihatanya asyik-asyik aja tuch menjalani hidupnya “. (Astaghfirullah hal adziim).

Kalau lagi kena masalah, apalagi masalah berat, apa yang sobat-sobat pikirkan? Kalau aku sih pengennya lari…lari…larriiiii…..sejauh-jauhnya menjauhi masalah. Terus ngehayal bahwa semua itu hanya mimpi buruk semata, yang pas bangun hilang.

Tapi ternyata pada kenyataannya tidak semudah itu ya! Tetap saja mau nggak mau, enak nggak enak, enek nggak enek, harus dihadapi. Seperti juga yang aku rasakan hari ini. Sedih, sebbell, jengkel, pokoknya uueeeehhhhh…..githu deh!!! Maunya aku menghindar dari masalah yang aku hadapi ini. Aku yang nggak tahu apa-apa tiba-tiba berada di posisi seperti ‘terdakwa’, kalau kata orang Sunda mah “katempuhan buntut ucing, eh maung”. Hampir selalu begitu!!! Kesselll dech! Sampai-sampai beberapa waktu yang lalu saking tidak kuatnya menahan ‘emosi’ tapi tidak bisa melampiaskannya ke orang lain, pernah kutendang filling cabinet yang ada di depanku. Hasilnya???…kakiku sakit bo!!..he..he..

Hari ini saat di kepalaku “asap mengepul”, tiba-tiba hp ku berbunyi. Ada sms masuk. Ternyata dari salah seorang sahabatku. Apa yang dia tulis? Ternyata sebuah kata-kata hikmah yang berbunyi seperti ini, “ Kenalilah Allah…kita kan jatuh cinta pada-Nya, kita kan rasa takut pada-Nya, kita kan ridha pada-Nya, kita kan merasa ada Zat yang membela…itulah rasa kehambaan setiap hamba”.

Zzsssss…..tiba-tiba kepalaku rasanya seperti disiram oleh seember air es, dan hatiku pun lambat laun menjadi tenang! Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar! Bukan suatu kebetulan dia mengirimkan sms seperti itu. Allah lah yang telah menggerakkannya! Allah menghiburku serta Allah mengingatkanku untuk tidak lupa bahwa Dia lah satu-satunya penolongku dan Dia lah yang akan membelaku!!! Ya Allah, ampuni hamba Mu yang telah terbawa nafsu, dibutakan oleh amarah sehingga hampir-hampir ‘tidak peduli’ pada Mu!! Betapa besar cinta-Mu, tidak kau biarkan hamba hanyut oleh rasa yang menyesatkan. Ya Allah, jadikanlah hamba umat yang pandai bersyukur pada Mu, tajamkanlah hati hamba dalam menerima ilmu Mu yang kau berikan baik melalui ‘tanda-tanda’ maupun kejadian di alam sekitar hamba, dan masukkanlah hamba ke dalam golongan orang-orang yang Engkau cintai. Amin. YA ALLAH, BETAPA HAMBA MENCINTAI MU!!!!
(Selasa, 7 Agst.’07)

Ini adalah salah satu kenangan berharga yang kualami di Jepang. Suatu sore di bulan April tahun 1998. Saat aku pulang ke asrama setelah selesai kerja kulihat banyak orang di kantor asrama. Ketika akan menyimpan sepatu di loker, tiba-tiba terdengar suara Bapak Asrama memanggilku. “ Ry san, chotto,..” (Ry, sebentar) katanya. Aku pun segera menghampiri dan masuk. Di dalam kantor ada dua orang tamu Jepang dan sepuluh orang berkebangsaan Brazil. “Ini adalah penghuni baru asrama. Semuanya orang Brazil keturunan Jepang. Tapi mereka samasekali tidak bisa berbicara B. Jepang ataupun B. Inggris”, begitu kata Bapak Asrama. Kemudian beliau berbicara kepada tamu Jepangnya yang ternyata mereka adalah penterjemah B. Portugal. Beliau juga memperkenalkan pada mereka bahwa aku adalah guru dan penterjemah B. Jepang untuk orang Indonesia disana. Terlihat mereka mengangguk-angguk sambil tersenyum dan menyapa “Hallo”, katanya setelah mendapat penjelasan dari penterjemahnya.

Keesokan paginya ketika akan berangkat kerja, aku kembali bertemu dengan mereka. “Hallo!”, Sapa mereka. Aku pun balas “Hallo”. Cuma itu yang bisa dikomunikasikan. Waktu aku berjalan menuju kantor, tanpa setahuku ada salah seorang dari mereka mengikutiku. “Hallo,..hallo,..” katanya. Aku menoleh dan menunjuk ke hidungku sebagai isyarat “kamu memanggilku?” (Kebiasaan orang Jepang kalau mengatakan tentang dirinya dengan menunjuk hidungnya. Kalau kita, orang Indonesia biasanya menunjuk dada kita). Ia mengangguk dan menghampiriku. Lalu ia mengulurkan tangannya, “Shizue”, katanya. Oo..ternyata ia mengajakku berkenalan. Aku pun mengulurkan tanganku. Selanjutnya ia ‘nyerocos’ dalam B. Portugal. Aku hanya bengong, dan kugoyang-goyangkan tanganku. “Sorry” kataku. Akhirnya dia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. (Mungkin geli lihat wajahku yang full bingung) dan berkata.”bye..bye..”.

Tadinya kusangka dia akan kapok bicara denganku, tapi ternyata sorenya dia kembali mengikutiku dan seperti biasa cas cis cus dalam bahasanya. Awalnya aku kesal dan hampir putus asa karena kemanapun aku pergi dia selaluuu ada di belakangku.Tapi, “Ting!” akhirnya aku dapat akal. Ku ajak dia ke kamarku. Ku ambil selembar kertas dan pinsil, serta kuberikan padanya. Bengong sejenak, akhirnya dia mengerti yang kuinginkan. Diambilnya pinsil dan mulai mencoret-coret kertasnya. Ternyata dia menuliskan kata Brazil, gambar pesawat terbang, kata Jepang dan gambar jam yang arah jarum jamnya menunjukkan angka 12. Kemudian di bawahnya ada tulisan Indonesia – Jepang, gambar jam dan “?”. Hi..hi.. rupanya dia ingin menerangkan tentang berapa lama dari Brazil ke Jepang jika naik pesawat terbang dan menanyakan berapa lama kalau dari Indonesia ke Jepang.

Sejak saat itu kami selalu membawa buku dan pinsil jika berkomunikasi. Aku sengaja membeli buku kamus B. Jepang – B.Portugal, selain untuk memudahkan pembicaraan, juga karena jadi tertarik ingin mempelajarinya. Dari obrolan-obrolan dengannya (walaupun lebih banyak “tulalit”nya dari pada ngertinya..), ternyata banyak kesamaan antara B. Indonesia dengan B. Portugal. Ini mungkin karena banyak bahasa kita yang diserap darinya ya! Seperti contohnya kemeja = kamiza (aduh, maaf tulisannya pasti salah-salah dech, soalnya saya hanya dengar bhs. Lisannya aza,..he..he..). , bank, bangku, jendela..dan masih banyak lagi. Tapi ada juga yang sama pengucapannya tapi artinya jauuuh sekali bedanya. Contohnya, mereka menyebut kantong keresek itu “sakola”, padahal kan itu kalau dalam bahasa sunda mah artinya ‘sekolahan’. Masih ada lagi lainnya, pokoknya menarik dan kadang-kadang bikin geli dech!

Ada banyak pengalaman lucu. Salah satunya adalah ketika suatu hari dia datang ke kamarku dan berkata, “Ry san, iku suupaa braziw” katanya. Rupanya dia mengajakku pergi ke supermarket Brazil. Saat itu dia sudah mulai bisa sedikit-sedikit bicara B. Jepang walaupun susunannya masih sangat amburadul, hanya bisa kata per kata saja. Aku pun mengiyakan. Dan kami pergi naik kendaraan dari supermarket tersebut Di tengah jalan tiba-tiba mobil berbelok ke sebuah klinik. Lho?? Melihat aku bingung dia menunjukkan bahu kanannya dan berkata “itai” (sakit) katanya.

Kuikuti langkahnya ke dalam. Di meja pendaftaran, ada kertas isian yang harus di isi. Dia lalu menyerahkannya padaku sambil memberikan KTP nya minta diisikan. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya dia dipanggil. Dan dia menarik tanganku supaya mengikutinya. Dokter yang ada di klinik itu sudah cukup kukenal . Wajahnya sedikit berkerut ketika melihat kami. “Sakit apa?” tanyanya. Temanku melirik padaku. Lalu aku bilang “Bahu kanannya sakit dok”. “Sejak kapan?”, mulai deh bingung ngejelasinnya. Sambil sedikit garuk-garuk kepala, lalu kucolek dia dan menunjuk bahunya, “itai” (sakit), lalu aku tunjuk kalender yang ada di ruang pemeriksaan. “Hah?” Tanyanya. Sekali lagi aku bilang, itai, lalu ku tunjuk angka-angka di kalender itu. “Oo” katanya lalu dia menunjuk beberapa angka disana. Ketika kami berbalik kembali menghadap dokter dan perawat, ternyata mereka sedang terbengong-bengong. “Kamu bukannya penterjemah dia?” Tanya dokter. “Bukan dok”. “Kamu ngerti B. Portugal?” “Enggak dok”. “Lho, kenapa kamu bareng sama dia?” Tanya dokter lagi. Lalu kujawab,”Saya juga bingung dok, dia tadi ngajak ke supermarket ko’ bukan ke sini”. Kontan pak dokter geleng-geleng kepala sambil menahan senyum. “Orang-orang yang aneh. Nggak bisa ngomong ko’ bisa akrab”, katanya. “Pakai bahasa hati ya?”. Iya ya, mungkin dokter itu benar. Kami komunikasi dengan bahasa hati. Kalau hati yang bicara, dari yang nggak nyambung pun bisa jadi nyambung!

Dari asalnya hanya kenal biasa lama-lama menjadi makin akrab. Dari hari ke hari kemampuan B. Jepang nya pun makin baik. Alhamdulillah. Tapi tetap, kalau ada apa-apa pasti aku yang dipanggil untuk menjadi penterjemahnya. Bukan dari B. Jepang ke B. Portugal, tapi dari B.Jepang yang baik dan benar ke B.Jepang “rada amburadul” yang dimengerti oleh dia. Padahal penterjemah aslinya ada. Nggak tahu kenapa orang-orang Jepang disana lebih suka menyuruhku untuk membantunya. Mungkin karena wajahku beuti? (beungeut titaheun???..he..he..B. Sunda ieu mah!).

Ketika aku harus pulang ke Indonesia rasanya sedih sekali berpisah dengannya. Dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Selama ini dia hidup sebatangkara. Orang tua dan kakaknya sudah meninggal dunia. Dia pun nampaknya merasakan hal yang sama. Menangiis terus. Setahun bersama banyak hari-hari ‘ceria’ yang kami lalui. Dan dalam kurun waktu itu dia menunjukkan minat yang sangat besar terhadap agama Islam. Pernah berkali-kali dia bilang ingin belajar shalat, ingin belajar puasa. Setiap aku shalat, dia selalu memperhatikan dan banyak bertanya tentang berbagai hal berkaitan dengan agama kita.

Di tahun yang sama sejak kepulanganku, saat liburan musim panas di bulan Agustus 1999, dia datang ke Indonesia dan menginap di rumahku selama seminggu. Hasilnya?, pas kembali ke Jepang dia sudah pintar B. Sunda!!..mungkin karena setiap hari bergaul dengan keluarga dan tetanggaku. Dia sempat mengutarakan ingin tinggal di Indonesia dan ikut denganku. Tapi sayang, pengurusan dokumen-dokumennya lumayan rumit. Akhirnya dia pun kembali ke Jepang dengan wajah sedikit kecewa.

Tahun 2000 aku dinas kembali ke sana. Betapa terkejutnya aku ketika tidak menemukan dia di asrama. Ketika kutanyakan, katanya beberapa hari sebelum aku datang dia diberhentikan karena sakit. Memang, Shizue adalah seorang pegawai kontrak, bukan pegawai tetap. Duh, sediiih sekali. Kutanya dimana tempat tinggal barunya, tapi ternyata katanya dia sudah kembali ke Brazil. Menurut temannya, sakitnya cukup parah. Selain darah tinggi dan kolesterol, dia juga mengalami gangguan pada punggungnya sehingga susah untuk berjalan.

Dengan bantuan teman Brazil ku yang lain, aku mencoba mencari tahu keberadaannya dengan meneleponnya pada salah seorang kerabatnya di Brazil Tapi ternyata dia tidak ada di sana.Sampai sekarang aku kehilangan jejaknya. Dimana dia berada, sehat kah, sakit kah? Biasanya dia rajin sekali berkirim surat, tapi tiba-tiba menghilang. Surat yang ku kirim pun kembali lagi. Aku sungguh kehilangan!! Walaupun beda bangsa, beda agama, beda bahasa, tapi entah kenapa hati kami rasanya dekaaat sekali. Semoga dia baik-baik saja, dimanapun dia berada. Amin.

Catatan:
1. Itai = sakit untuk salah satu anggota badan. Misalnya sakit kepala (atama ga itai).
2. Byouki = sakit secara umum. Misalnya saya sakit. (watashi wa byouki desu).