Arsip Bulanan: Oktober 2007

Hujan turun lebat sekali malam ini.  Dingin banget, tapi tidak mengurangi semangat kerja…he..he.., maklum lembur. Sebenarnya sih pengennya istirahat, nonton tv sambil minum kopi…tapi apa boleh buat, tugas tetap tugas,..harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Awalnya ngeluh, malas,..namun setelah dipikirkan lebih dalam,..timbul kesadaran,..buat apa ngeluh? kan tidak menyelesaikan masalah. mendingan dinikmati! Akhirnya timbul lagi semangat buat kerja,..dan alhamdulillah nggak kerasa satu persatu pekerjaan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Apalagi dikerjakan sama teman-teman yang sama ‘ngocolnya’, asyiik dech jadinya!

Sekarang, waktu ngetik ini, sambil mendengarkan suaranya “Mas Andri cs” di Radio, di luar hujan masih turun dengan derasnya. Tapi kalau di dengar-dengar ko` kayak dengar suara musik ya! Seperti dengar musik arumba!

Ah, bodoh sekali aku kalau tidak mensyukuri semua ini! Alhamdulillah Allah masih memberikan hujan kepada kita, sementara di belahan bumi lain mungkin ada yang kekeringan. Alhamdulillah Allah memberikan telinga yang sempurna sehingga bisa mendengar keindahan suara-suara dan bunyi yang ada di alam semesta. Alhamdulillah,..alhamdulillah,..Subhanallah,..Allahu Akbar!!!! hanya itu yang bisa diucapkan. Semoga kita termasuk ummat yang pandai bersyukur dan ikhlas pada semua ketetapan Allah. Amin.

Setiap menjelang Iedul Fitri bapak selalu mengingatkan kami untuk membuat setoples kacang pakai gula & jahe. (kira-kira kebayang nggak tampilannya?). Ketika masih sehat, beliau selalu membuat sendiri makanan tersebut. Sekarang, biasanya beliau menyuruh salah seorang dari kami untuk menyiapkannya. Dan, makanan tersebut menjadi menu wajib lebaran setiap tahunnya.

Awalnya kami menyangka kacang gula itu kesukaan bapak. Tapi setelah beliau sakit dan tidak boleh makan kacang pun masih saja menyuruh kami membuatnya. Heran juga, setiap kami bertanya beliau hanya bilang, “Buat pelengkap lebaran” katanya.

Tahun ini pun saat menjelang lebaran kembali beliau berkali-kali mengingatkan kami. Waktu aku bilang nanti saja, beliau terlihat sangat kecewa,..duh jadi merasa berdosa……… Tapi penasaran juga…kenapa sih beliau begitu ngotot, padahal kan nggak makan…. Akhirnya beliau mau cerita juga tentang alasannya. Menurut beliau, itu untuk mengenang almarhumah ibuku, yang dulu selalu membuat kacang gula kesukaannya setiap lebaran walaupun dalam kondisi sakit parah. “Ibumu walaupun atsmanya sedang menghebat, dengan badan membungkuk-bungkuk selalu memaksakan diri membuat makanan itu,” kata Bapak. “Makanya untuk mengenang ibu, Bapak ingin membuatnya, minimal setiap lebaran,” tambahnya lagi. Oo….aku hanya bisa melongo dan tak bisa berkomentar apa-apa mendengar penjelasan bapak. Berjuta rasanya…sedih, haru, bahagia…pokoknya nano-nano dech! Ternyata ada cinta di balik setoples kacang gula!

“As. Menjadi orang yang ikhlas di hadapan Allah adalah keharusan, di depan orang adalah tantangan”. Demikian bunyi sms yang masuk hampir tengah malam ketika mataku mulai terasa berat saat itikaf di DT sabtu malam itu. Di tengah kantukku awalnya hanya sekilas kubaca, tapi ketika kubaca pengirimnya langsung tersentak kaget. “A,yah! Salwa”. Sejenak aku terheran-heran, darimana beliau tahu nomor hp ku? Dan kenapa tiba-tiba beliau mengirimkan sms seperti itu? Kuulangi lagi membaca isinya,…..Ya Allah, akhirnya aku tersadar akan sesuatu…..sebuah pertanyaan yang harus kujawab sendiri….”Sudahkah aku ikhlas melakukan semua yang kulakukan?”

Akhirnya akupun terhanyut dalam sebuah introspeksi. Kuurut kejadian demi kejadian,..ternyata hari itu, mulai pagi sampai detik ini, Allah memberiku berbagai pelajaran tentang keikhlasan! Mulai dari rumah ketika akan pergi Bapak mengingatkanku untuk selalu ikhlas dalam melakukan segala sesuatu. Berlanjut ke learning club dan silaturahmi TC di mesjid Cipaganti, aku mendapatkan pula pelajaran tentang keikhlasan. Kemudian, sekarang, ketika aku berusaha keras menghatamkan bacaan Al-Quranku, hatiku seolah mengingatkan, apakah aku melakukannya ikhlas karena Allah, atau karena pembicaraanku dengan seorang sahabat untuk menghatamkannya malam itu? Deg!, Astaghfirullah hal adzim! Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih Kau telah mengingatkanku untuk segera meluruskan niatku hanya karena Engkau!

Banyak sekali hal yang harus kurenungi dan kuperbaiki. Ketika aku berhadapan dengan seseorang, sudahkah aku ikhlas dalam memberikan senyumku padanya? Sudahkah aku ikhlas mendengarkan apa yang dikatakannya? Sudahkah aku ikhlas memberikan jawaban atas pertanyaannya? Ketika dihadapkan pada suatu kejadian, ikhlaskah aku menghadapi & menjalaninya? Ya Allah,…izinkanlah hamba untuk memperbaiki diri, dan bersihkanlah hati serta fikiranku agar bisa ikhlas dalam menghadapi semua yang terjadi padaku! Luruskanlah niat hamba hanya karena Mu dan ikhlaskanlah hati hamba untuk melakukan semuanya dengan cinta. Amin.