Arsip Bulanan: Desember 2008

Bapakku meninggal dunia hari Sabtu. 27 Desember 2008 di Arab Saudi menjelang kepulangannya sehabis menunaikan ibadah haji. Sedih? Pasti. Tapi semua itu tidak akan mengembalikan bapak ke pangkuan kami lagi. Allah telah memberikan yang terbaik untuk bapak dan kami semua. Alhamdulillah. Semoga Allah mengampuni segala dosa perdosa bapak dan menerima amal ibadahnya, memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amiin.

Aku ingin menulis banyak tentang beliau, tapi sepertinya tidak sekarang. Yang bisa kuungkapkan pada beliau saat ini adalah aku sangat menyayangi nya walaupun jarang kuperlihatkan dengan cara bermanja-manja padanya. Mungkin kadang-kadang aku terkesan dingin, tapi itu semata-mata untuk menutupi rasa ketakutan kehilangan beliau. Terima kasih ya Pak atas segala limpahan kasih sayangmu selama ini pada kami. Bapak yang kuat dan tak pernah mengeluh karena penyakit dan keadaan. Terima kasih Pak!

Waktu cepat berlalu. Tidak terasa tahun ini pun akan segera berakhir berganti tahun baru yang membawa sejuta asa dan prasangka. Tahun baru Hijriah dan Masehi datang berturut-turut. Tanggal 29 Desember dan 31 Desember 2008.

Aku mencoba mengevaluasi tentang targetku tahun ini. Mana yang tercapai, belum tercapai, dan tidak tercapai. Ternyata lebih banyak ke yang belum dan tidak tercapai. Hambatan yang kutemui sebenarnya ternyata juga lebih banyak dari faktor internal diriku sendiri dibandingkan akibat lingkungan sekitar. Yang menempati ranking pertama penyebab kegagalanku adalah “KEMALASAN” dan “KERAGU-RAGUAN”. Weleh weleeh, mungkin berkisar sekitar 70% nya. Tidak boleh kubiarkan terjadi lagi!

Untuk tahun depan nanti ada beberapa target yang coba kuraih. Mau tau?..ada deeeh. Kuharap itu bukan hal yang muluk, tapi yang benar-benar butuh untuk dilaksanakan. Insya allah kan kukejar harapan itu. Semoga Allah meridhai. Amin.

Alhamdulillah akhirnya bisa ber internet ria lagi di rumah. Laptop membaik dan Smart pun mulai berfungsi. Semalam masih belum bisa connect, tapi tadi pagi bisa dipakai dengan lancar.

Tahu yang ingin segera kulakukan? Menulis, menulis, dan menulis! Sudah jadi kebiasaanku, malas bikin konsep. Biasanya kalau sedang menerjemahkan bahasa Jepang juga, langsung ku tulis di kompie, setelah itu baru di edit-edit. Jarang sekali memakai tulisan tangan, jadi kerja berkali-kali soalnya.

O,ya, sekarang aku punya blog baru, //AbdiTiasa.blogspot.com . AbdiTiasa itu sama dengan ‘abdi tiasa’ artinya ‘aku bisa’ dalam bahasa Sunda. Memang cita-citaku sejak lama membuat blog berbahasa Sunda. Alhamdulillah terkabul juga sebelum tahun baru. Tapi ya itu, masih belum banyak di isi sih, baru dua hari soalnya. Tapi insya allah, nggak akan rugi deeeh main ke blog ku..heuheu…promosi. Ayoo mari-mari, ibu-ibu, bapak-bapak, berkunjung ke blog ku..dijamin deh, nggak balik lagi.(hihihi…)

Rabu sore kemarin, ketika aku pulang kerja. Sampai rumah jam setengah enam sore. Ketika aku berbelok memasuki rumah, keponakanku berlari-lari mengejarku dari tempatnya bermain di rumah tetanggaku dan mengikuti masuk ke dalam.

Capek sekali hari itu. Aku duduk di kursi depan sambil membuka sepatu. Keponakanku, Gina duduk mengikuti. “Tumben, biasanya cuek”.kataku dalam hati. “Capek bi?” tanyanya sambil memandangku. “Lumayan”, jawabku. “Bi, Gina mau tanya pendapat bibi nih,” katanya. “Apa?” kataku. “Gini bi, kan Gina besok mau nyoblos, baiknya milih siapa ya?” tanyanya dengan wajah bingung. “Nyoblos? Nyoblos apa? Emang ada acara apa besok?” tanyaku penasaran. Masak sih nyoblos caleg, kan masih di bawah umur, baru tujuh tahun. “Itu lho bi..tadi kan Sinta sama Gita bertengkar (dua-duanya temen main Gina). Gara-garanya Sinta nggak mau disebut saudaranya Siti sama Gita. Terus Sinta marah ke Gita, Gita nya nggak enak, jadi mereka berkelahi”. Jelasnya. “Naah, sekarang Gina sama temen-temen yang lain lagi kebingungan kita harus main sama siapa. Makanya Gina usulin aja nyoblos buat nentuin siapa nanti yang mau kita temenin, supaya nanti Sinta atau Gita nggak marah”, Jelasnya lagi. “Menurut bibi gimana, bagus nggak kalau gitu?” tanyanya.

Sejenak aku terbengong-bengong. Anak kecil punya pemikiran seperti itu. Tapi akhirnya aku tertawa geli sekaligus kagum sama pemikirannya. “Gin, kenapa nggak baikan aja, semuanya temenan bareng-bareng lagi, kan kasihan nanti kalau yang kalah nggak ada yang nemenin”. Usulku. “Iya sih bi, nantinya sih mau temenan sama dua-duanya. Tapi nya besok mau nyoblos dulu, kan keren kayak anak gede”,..katanya sambil bangkit dan berlalu.

“Hehehe..Gina-Gina, ada ada aja,’.kataku sambil mengambil sepatu, disimpan, ganti baju, makan deeh,..makan oh makan…I love it!

Sakit kepala. Sudah tiga hari ini tidur larut malam. Biasanya jam delapan aku sudah terbang ke pulau kapuk..tapi kemarin-kemarin asyik bertelepon ria dengan teman-temanku. Awalnya membahas amanah, diteruskan ke bisnis, dilanjutkan cerita kisah pribadi masing-masing, yang biasanya jaraaaang sekali kami bicarakan. Ternyata menyenangkan juga ya membicarakan cita-cita, pengalaman,..wah pokoknya nggak kerasa ngobrol berjam-jam. Kami berbagi pulsa. Ketika aku akan membicarakan hal yang berkaitan denganku, aku yang telepon. Sebaliknya giliran temanku yang cerita, teleponnya diputus dulu, gentian dia yang menghubungiku..heuheu.., kan kalau nggak gitu kasihan dong salah seorang diantara kami..ya nggak??

Terakhir semalam. Telepon baru kututup jam sebelas lebih seperempat. Mau tidur kulihat pakaian kotor bergantungan di kamar. Kelihatannya sumpek. Biasanya aku nyuci baju pagi hari, tapi kali itu iseng kuambil semuanya, dibawa ke kamar mandi, nyuci deeh. Selesai mengeringkan baju jam setengah satu,..wuihh…. mau langsung tidur takut kesiangan qiamul lail. Kuputuskan shalat dan diteruskan miscall tc sulawesi sampai jam dua pagi. Udah nggak kuat. Akhirnya kuputuskan untuk mematikan hp agar bisa tidur (biasanya dari jam setengah dua rame yang mc. Mohon maaf ya teman-teman, pulsa kalian tersedot oleh ‘neng veronica’).

Paginya ketika bangun, kepala pusing dan tidak nyaman. Kucoba menyegarkan diri dengan mengguyur kepalaku tapi hasilnya tidak begitu membaik. Sekarang aja lagi nulis masih pusing neeeh…obatnya apa ya? Bantalgin dan kasurgin kali yeee…………

Horreeeeeeeeeeee!!!….laptopku tercinta sudah kembali membaik! Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Setelah dua hari “mati suri” akhirnya kesadaranya muncul. Syukurlah. “Top, jangan sakit lagi ya, kasihanilah diriku”..heuheu..

Terlalu boros dalam pengeluaran, sementara pemasukan tidak bertambah. Fuiih….besar pasak daripada tiang. Tapi tidak selamanya bisa begini. Harus mencari sumber dana baru yang harus dikelola secara cerdas.

Tertarik oleh materi di seminar Sabtu kemarin, sepertinya harus mulai memberanikan diri membuka lembaran baru dalam hidup (deuh bahasanya…), waktu yang tersisa di luar jam kerja harus mulai dimanfaatkan buat hal-hal yang berguna (kebanyakan tidur kalau selama ini).

Salah satu hambatan yang kutemukan kemarin ketika dengan penuh semangat akan berinternet ria di rumah,..duuuh, ternyata laptopku rusak,..sepertinya terbanting-banting olehku, atau lupa diduduki?…hiks…sedih deh,..salahku nyimpen laptop di tempat tidur ketutupan tas ransel ku. Sedih deeehhhhhhhh……………..

Sekarang harapan satu-satunya pakai kompie adikku,..tapi,..olala….ternyata ketika aku ke kamarnya,..monitornya tidak ada!..di pinjem temannya katanya,..yaaah, kecewa deeh…., akhirnya aku harus mengurungkan niat ku. Tidak mungkin mengerjakan di kantor, walaupun bisa internetan, tapi kalau buat ber internet ria untuk pekerjaan di luar kerjaan kantor (kecuali sedikit.hehe..) sepertinya kurang pada tempatnya.

Satu-satunya cara hanya memperbaiki laptop sesegera mungkin. Ataauuuuuuuuuu…..ada yang berminat menyumbangkan laptop atau kompie nya?…heuheu…asli,..seriusss…….

Di perjalanan pulang kemarin, di sepanjang jalan toll kopo. Pikiranku masih ‘aneh’ bin ruwet. Ada sesuatu yang kupikirkan terlalu dalam sehingga mengakibatkan otakku sedikit ‘hang’. Ku tatap awan, kelabu dan terkesan sendu, seperti hatiku (ciee..), sambil sedikit melamun, ku perhatikan gumpalan-gumpalan awan yang kalau kita lihat lebih dalam seperti membentuk sesuatu.

Tiba-tiba di tengah keasyikanku, aku tersentak. Hei!!!…ternyata tidak semuanya kelabu, di tengah awan-awan itu terselip cahaya biru langit yang begitu terang dan indah! Sangat kontras sekali berdampingan dengan bagian lainnya yang ‘muram’. Dalam beberapa saat aku terpesona oleh keindahan alam ini. Dan ketika tersadar, kulantunkan tasbih memuji kebesaran Yang Maha Kuasa. Allah sedang mengajak ku berdialog melalui awan yang kulihat ini! Seolah-olah Dia mengingatkanku bahwa selalu ada jalan terang dalam persoalan yang kuhadapi ini. Hidup ini tidak sulit, karena selalu diikuti oleh kemudahan di sampingnya. Dan Allah pasti akan selalu menolong hamba Nya yang berserah diri. Subhanallah!

Akhirnya dengan penuh rasa penyesalan karena telah ‘mengenyampingkan’-Nya dan rasa syukur atas segala karunia-Nya, kulantunkan dzikir kepada-Nya. Dan tanpa terasa ketika aku sampai di rumah, beban pikiran yang tadi terasa berat telah hilang berganti rasa tenang yang begitu indah. Alhamdulillah.

Sepertinya aku ‘sedang tidak normal’. Gampang tersinggung dan terlalu sensitif. Hari ini saja berlinang air mata oleh prasangka yang kubuat sendiri, padahal kebenarannya mungkin tidak sampai mencapai tiga puluh persen. Wuiih,.hanya prasangka….tidak sopan sekali bikin aku nggak enak hati!

Bagaimana sih sebetulnya untuk menghilangkan rasa seperti ini? Berpikir positif ya? Memang sih sedang kucoba melawan perasaanku ini, tapi naga-naganya hari ini sulit berhasil..atau karena aku dari awal sudah pesimis nggak akan bisa menanggulanginya??…hmm…PR besar neeh. Kalau nggak ‘sembuh’ dengan segera, ‘penyakit’ ini bisa menyebar kemana-mana nih, jadi virus menyebalkan, bisa bikin banyak orang tersakiti. Gimana doong? Ada yang mau bantu?? (berdzikir sudah mulai kulakukan….). Duuh, toloooooong..!!!!

Hari Raya Idul Adha sudah lebih dari dua minggu berlalu.Tapi ada sms ucapan selamat hari raya tersebut yang belum kuhapus, dikirimkan oleh adikku menjelang tengah malam ketika aku sedang luruh dalam muhasabah diri di tengah takbir yang berkumandang dari kejauhan, yang membuat diri merasa kecil dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Saat itu aku sedang merasa gundah dan khawatir dengan apa yang terjadi dengan bapakku dan masalah-masalah yang sedang menimpaku. Sempat terjadi dialog dengan beliau ketika aku ‘mengeluhkan’ apa yang memenuhi pikiranku saat itu. Berikut ini adalah jawaban-jawaban atas pertanyaanku yang tertulis dalam sms-sms nya:

  • Saat takbir, tahmid dan tahlil itu bergema begitu dahsyat, sudahkah kita memberinya makna? Semoga ini bisa menjadi tonggak kemenangan akidah kita. Have a nice Ied.
  • Kekuatan itu sedang kita dengar di semesta sekarang. Laa Ilaha Illallah. Allah sang Ilahi. Dia lah penggenggam hidup dan mati. Itulah pelajaran dari Kurban Ibrahim.
  • Ada hal yang aneh namun indah. Saat kita merasa diri kita lemah justru kita akan mendapat kekuatan yaitu saat kita kembalikan pada Allah. Resapi takbiran malam ini.
  • Yang kita dengar dan kita lantunkan malam ini sesungguhnya adalah dzikir kepasrahan yang berbuah kemenangan. Alhamdulillah pun akhirnya menjadi ending dzikir ini.
  • Dan Ibrahim pun sebenarnya bersedih, terbukti dia memejamkan mata saat penyembelihan. Tapi Allah sang Illahi akhirnya memberi kabar gembira. Allahu Akbar.
  • Maka nikmat yang mana lagi yang kita dustakan? Allah Al Hafiz. Dia, sang pemelihara yang tidak pernah lalai. Hasbunallah wa nikmal wakil…
  • Allah senantiasa menguji hamba yang dicintai-Nya karena DIA suka saat hambanya berdoa dan bermohon pada-Nya. Selamat..teteh sedang dicintai oleh Allah SWT.

Dialog kami berhenti ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Kuresapi apa yang beliau tulis, aku yakin ini bukan sebuah kebetulan. Ketika aku berada dalam kesedihan yang sangat dan bermacam-macam tanya berkecamuk di kepala, Allah menuntun adikku mengirimkan sms kepadaku. Allah mengajakku berdialog dan menjawab kegundahanku melalui dia. Subhanallah,..terima kasih Ya Allah. Betapa aku sering, terlalu sering bahkan lalai dalam membaca tanda-tanda Mu ini. Ampuni hamba ya Allah. Semoga Allah melimpahkan pula keberkahan pada adikku yang menjadi jalan terjadinya peristiwa ini. Amin.