Alhamdulillah sekarang sudah bisa bekerja lagi di kantor setelah satu bulan kemarin, terutama dua minggu terakhir banyak tugas luar ke rumah sakit. Bukan aku, tapi boss ku yang sakit. Karena kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, aku ditugaskan untuk membantu beliau.

Bagiku hal itu bukan merupakan beban, tapi asyik asyik aja tuh menjalaninya. Walaupun konsekuensinya aku harus mengejar target menyelesaikan pekerjaan selama aku tidak ada di kantor.

Bertemu dokter, keluar masuk rumah sakit, bukan lagi menjadi pekerjaan asing.  Jadi ingat waktu dinas di Jepang dulu,..hampir sama, dalam seminggu adaa saja trainee yang sakit.  Begitulah, aku harus siap menerjemahkan apa yang jadi keluhan pasien dan apa yang dikatakan dokter, dan itu menuntutku stand by 24 jam kapan saja aku diperlukan. Tidak jarang tengah malam pun aku harus siap mengantar mereka ke rumah sakit.

Yang lucunya,..ketika waktu musim dingin tahun berapa ya lupa..di Jepang sedang ada serangan virus influensa. Bukan hanya orang Jepang, orang Indonesia pun tidak luput terkena juga. Termasuk 30 orang trainees di perusahaanku. Yang satu kena, yang lainnya tertular. Hampir setiap hari aku membawa tidak kurang dari 4 orang anak ke dokter. Rata-rata demamnya tinggi sampai 39 derajat celcius.

Mungkin karena kecapaian, daya tahan tubuhku pun menurun, dan terkena juga. Tapi aku tidak mau menyerah dan berobat, alias berlagak sehat. Sampai akhirnya aku diledekin oleh pak dokter di sana, “Menurut saya, orang yang nganter lebih parah sakitnya daripada yang diantar”, katanya sambil tertawa-tawa dan memaksaku untuk berobat juga.

Ada keuntungan yang kudapat dari bolak-baliknya aku ke rumah sakit. Pengetahuanku tentang penyakit dan ilmu kedokteran pun bertambah. Dan ini sangat berharga. Namun ada lagi yang lebih penting,…semua yang kulihat, yang kudengar, yang kurasa disana membuatku lebih sadar akan pentingnya arti sebuah kata “sehat”. dan juga belajar berempati pada orang lain yang sedang mengalami ujian sakit.

Ada yang mengeluh, ada yang tabah, ada juga yang ‘cuek’ dengan apa yang sedang dialaminya. Juga banyak kutemukan kebesaran dan kasih sayang Allah di sana. Subhanallah….berbagai keajaiban ada di sana. Sungguh, luar biasa! Rugi jika kita tidak mensyukuri setiap kejadian. Mungkin secara kasat mata apa yang terjadi suatu peristiwa itu buruk, tapi jika dikaji lebih dalam, ada banyak pelajaran dan hikmah yang kita temukan disana. Semoga kita, terutama aku dapat mensyukuri dan diberi ketajaman hati dalam menerima semua pelajaran yang diberikan oleh Allah SWT. Amin.

Satu komentar

  1. yuuk mari…

    tulisan ini mengingatkanku ketika sakit DB dan harus dirawat 5 hari di RS. Betul sekali Teh, banyak hikmah dari sakit. nikmati prosesnya dg sabar dan kuatkan sugesti utk sembuh.


Tulis sebuah Komentar

*
*