Arsip Kategori: HIKMAH

Masih saja aku tidak bisa melepaskan diri dari  ketergantungan pada makhluk. Padahal aku sudah paham betul akibatnya, pasti ada kekecewaan ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.  Tapi masih saja berulang-ulang kulakukan. Bandel ya aku..hehe..

Semalam sempat terhenyak ketika di ingatkan oleh pak Epi di Halaqah. Dan juga dibahas tentang hati yang terhijab. Subhanallah..apa yang menjadi kebingungan dan pertanyaanku dijawab oleh Allah melalui lisan pak Epi, padahal aku tidak bertanya pada beliau. Inilah salah satu cara Allah mengajakku berdialog, Allahu akbar!

Bahasan tadi malam betul-betul membuatku berkali-kali menghela nafas, membuatku begitu malu pada Allah. Betapa banyak sekali kelalaianku selama ini, betapa kurang ajarnya aku, tak tahu berterima kasih dan seringkali melalaikan-Nya. Duh, betapa banyak waktuku yang terbuang sia-sia selama ini. Semoga aku bisa segera memperbaiki diri. Bukan hanya niat tentu, tapi tentu saja dengan perbuatan. Semoga Allah memudahkan dan mengampuni kelalaianku. Bimbing hamba agar layak dihadapan Mu ya Allah. Amin.

Kejadian demi kejadian akhir-akhir ini terasa sedikit melelahkan, membuat hati dan pikiran terkuras, terkonsentrasi ke apa yang sedang terjadi. Bukan sesuatu hal yang menyenangkan, bahkan cenderung memprihatinkan. Tapi dibalik semua itu banyak sekali hikmah yang dapat kuambil. Menemani seseorang yang berusaha keras melepaskan diri dari sebuah masalah yang sangat pelik, yang melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga hati dan emosinya benar benar luar biasa. Ada pertentangan batin di sana,..di satu sisi dia ingin lepas, tapi di sisi lain ada keengganan untuk keluar dari zona nyaman yang terlanjur mengikat.

Berkali-kali dia gagal untuk menguatkan niatnya. Apa yang diupayakannya malah semakin menyiksanya. Sering apa yang diucapkannya tidak bisa direalisasikan dengan perbuatan. Hampir-hampir dia putus asa dan kelihatannya akan menyerah. Tapi alhamdulillah, Allah tidak membiarkan hambanya yang berserah diri tenggelam dan kehilangan harapan. “Tangan-Nya” segera menariknya ke dalam pelukan-Nya yang penuh kasih. Akhirnya dia dapat bangkit kembali. Walaupun belum bisa seratus persen pulih, tapi setidaknya telah berhasil mengendalikan dirinya untuk kembali meluruskan niatnya.

Aku jadi merenung,.jika aku yang mengalami peristiwa itu,..apakah bisa setangguh dia?..sedikit pesimis..hiks. Tapi aku berharap tidak akan mengalaminya..hehe.. . Ada beberapa pelajaran yang kudapat dari peristiwa ini:

1. Jaga hati. Kadang-kadang kita terlena dalam suatu suasana yang nyaman. Padahal belum tentu nyaman itu aman.

2. Jaga sikap. Seringkali orang salah menafsirkan sikap kita.  Ada kalanya sikap baik kita diartikan lain oleh orang lain, yang tanpa disadari menimbulkan suatu ketergantungan pada kita. Yang membuat kita sulit untuk melepaskan diri dari sana.

3. Jaga lisan. Tidak semua uraian kata kita diterima seperti yang kita niatkan. Salah persepsi, salah paham, kadang-kadang tidak bisa dihindarkan. Niat hati memberi motivasi, diterima sebagai bentuk perhatian lebih. Akibatnya timbul angan-angan yang tak semestinya.

4. Jaga pikiran. Jangan biarkan pikiran kita terbawa hanyut oleh angan-angan aneh yang seharusnya tak ada. Kendalikan rasa agar tetap di jalurnya.

5. Jaga hijab. Sudah waktunya kita mengevaluasi kembali pergaulan kita selama ini. Benarkah hijab kita sudah terjaga? (mengingatkan diri sendiri..hiks).

Semoga apa yang telah terjadi bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga bagi dia terutama, bagiku,..dan bagi pembaca tulisan ini. Tidak ada kejadian yang buruk jika kita mengembalikannya kepada Allah. Tidak ada hal yang sia-sia ketika kita berani mengambil sisi positifnya dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Masa lalu biarlah berlalu..tapi jangan lupa ambil hikmah dari dalamnya buat bekal saat kita melangkah menyongsong masa depan kita yang cerah!..amiin.

Di perjalanan pulang kemarin, di sepanjang jalan toll kopo. Pikiranku masih ‘aneh’ bin ruwet. Ada sesuatu yang kupikirkan terlalu dalam sehingga mengakibatkan otakku sedikit ‘hang’. Ku tatap awan, kelabu dan terkesan sendu, seperti hatiku (ciee..), sambil sedikit melamun, ku perhatikan gumpalan-gumpalan awan yang kalau kita lihat lebih dalam seperti membentuk sesuatu.

Tiba-tiba di tengah keasyikanku, aku tersentak. Hei!!!…ternyata tidak semuanya kelabu, di tengah awan-awan itu terselip cahaya biru langit yang begitu terang dan indah! Sangat kontras sekali berdampingan dengan bagian lainnya yang ‘muram’. Dalam beberapa saat aku terpesona oleh keindahan alam ini. Dan ketika tersadar, kulantunkan tasbih memuji kebesaran Yang Maha Kuasa. Allah sedang mengajak ku berdialog melalui awan yang kulihat ini! Seolah-olah Dia mengingatkanku bahwa selalu ada jalan terang dalam persoalan yang kuhadapi ini. Hidup ini tidak sulit, karena selalu diikuti oleh kemudahan di sampingnya. Dan Allah pasti akan selalu menolong hamba Nya yang berserah diri. Subhanallah!

Akhirnya dengan penuh rasa penyesalan karena telah ‘mengenyampingkan’-Nya dan rasa syukur atas segala karunia-Nya, kulantunkan dzikir kepada-Nya. Dan tanpa terasa ketika aku sampai di rumah, beban pikiran yang tadi terasa berat telah hilang berganti rasa tenang yang begitu indah. Alhamdulillah.

Hari Raya Idul Adha sudah lebih dari dua minggu berlalu.Tapi ada sms ucapan selamat hari raya tersebut yang belum kuhapus, dikirimkan oleh adikku menjelang tengah malam ketika aku sedang luruh dalam muhasabah diri di tengah takbir yang berkumandang dari kejauhan, yang membuat diri merasa kecil dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Saat itu aku sedang merasa gundah dan khawatir dengan apa yang terjadi dengan bapakku dan masalah-masalah yang sedang menimpaku. Sempat terjadi dialog dengan beliau ketika aku ‘mengeluhkan’ apa yang memenuhi pikiranku saat itu. Berikut ini adalah jawaban-jawaban atas pertanyaanku yang tertulis dalam sms-sms nya:

  • Saat takbir, tahmid dan tahlil itu bergema begitu dahsyat, sudahkah kita memberinya makna? Semoga ini bisa menjadi tonggak kemenangan akidah kita. Have a nice Ied.
  • Kekuatan itu sedang kita dengar di semesta sekarang. Laa Ilaha Illallah. Allah sang Ilahi. Dia lah penggenggam hidup dan mati. Itulah pelajaran dari Kurban Ibrahim.
  • Ada hal yang aneh namun indah. Saat kita merasa diri kita lemah justru kita akan mendapat kekuatan yaitu saat kita kembalikan pada Allah. Resapi takbiran malam ini.
  • Yang kita dengar dan kita lantunkan malam ini sesungguhnya adalah dzikir kepasrahan yang berbuah kemenangan. Alhamdulillah pun akhirnya menjadi ending dzikir ini.
  • Dan Ibrahim pun sebenarnya bersedih, terbukti dia memejamkan mata saat penyembelihan. Tapi Allah sang Illahi akhirnya memberi kabar gembira. Allahu Akbar.
  • Maka nikmat yang mana lagi yang kita dustakan? Allah Al Hafiz. Dia, sang pemelihara yang tidak pernah lalai. Hasbunallah wa nikmal wakil…
  • Allah senantiasa menguji hamba yang dicintai-Nya karena DIA suka saat hambanya berdoa dan bermohon pada-Nya. Selamat..teteh sedang dicintai oleh Allah SWT.

Dialog kami berhenti ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Kuresapi apa yang beliau tulis, aku yakin ini bukan sebuah kebetulan. Ketika aku berada dalam kesedihan yang sangat dan bermacam-macam tanya berkecamuk di kepala, Allah menuntun adikku mengirimkan sms kepadaku. Allah mengajakku berdialog dan menjawab kegundahanku melalui dia. Subhanallah,..terima kasih Ya Allah. Betapa aku sering, terlalu sering bahkan lalai dalam membaca tanda-tanda Mu ini. Ampuni hamba ya Allah. Semoga Allah melimpahkan pula keberkahan pada adikku yang menjadi jalan terjadinya peristiwa ini. Amin.

Menikmati berbagai karunia Allah. Mentafakuri setiap kejadian dari Allah. Mensyukuri atas semua cinta kasih dari Allah. Allahu Akbar!!! Betapa aku seringkali lupa untuk mengucapkan hamdallah atas semua kemudahan yang diberikan-Nya. Betapa seringkali aku lalai dalam membaca tanda-tanda yang diberikan-Nya. Seringkali terbawa emosi dalam menyikapi semua kejadian. Seringkali memandang negatif atas semua masalah yang terjadi, tanpa terlebih dahulu menyelami apa yang sedang terjadi. Tanpa sadar suudzon kepada Allah Swt. Astaghfirullah hal adzim.

Belajar untuk memperbaiki diri. Belajar untuk memandang positif semua kejadian. Belajar untuk membuka mata hati. Belajar untuk mensyukuri semua peristiwa. Semoga Allah memudahkan dan meridhai semua upaya kita untuk mendekati dan mendapatkan cinta kasih-Nya. Semoga Allah memaafkan semua keselahan kita. Amin.

Ternyata pelajaran yang indah tidak terjadi pada kemarin pagi dan siang saja. Malam hari pun aku menerima berita yang bikin aku senyum-senyum nelangsa..hehe…, masih berkisar pada kekeliruan. Awalnya aku mengernyit dan terkaget-kaget, tapi akhirnya aku tertawa. Tidak ada gunanya aku berlarut-larut menyesali semua kejadian ini. Tetapi pelajaran besar telah kudapat. Pelajaran yang sangat berharga dari Allah yang disampaikan-Nya dengan cara yang sangat indah. Jarang kan ada berbagai peristiwa di suatu waktu yang bersamaan dengan pola kesalahan yang sama. Dilakukan oleh orang-orang yang berbeda tapi bermuaranya tetap ke aku. Terima kasih ya Allah atas ilmu yang Kau berikan padaku ini. Semoga aku dapat menemukan hikmah dan makna yang indah di balik semua peristiwa yang mungkin dipandang dari ’segi manusia’ tidak menyenangkan ini. Allah mengajakku berdialog dengan caranya yang sungguh indah. Alhamdulillah.

Ada satu sms penyemangat dari sahabatku yang membuatku haru. Kutulis ya!

Sahabat adalah lilin saat mata kehilangan cahaya,

Sahabat adalah suara saat lisan tak bisa berkata,

Sahabat adalah senyuman saat ingatan menjerit kenangan

Sahabat adalah pengisi ruang hati yang hampa,

Sahabat adalah penenang hati dikala kita lagi menyendiri.

Di akhir sms nya beliau berkata “Untuk sahabat-sahabatku, terima kasih untuk kebersamaan yang indah selama ini. Apapun yang telah terjadi, anggaplah sebagai proses belajar untuk menjadikan kita lebih baik lagi. Allah menanti karya-karya KITa berikutnya…”

Terima kasih sahabat, semoga Allah meridhoi semua gerak langkah yang kita lakukan untuk menggapai cinta-Nya. Amin.

Banyak sekali kejutan yang terjadi hari ini. Dari sisi ‘sebagai manusia’, merupakan kejutan yang bisa dikatakan sangat tidak menyenangkan. Dari pagi tadi persoalan demi persoalan muncul. Yang satu belum terpecahkan, tiba-tiba muncul lagi masalah yang lebih besar. Sedikitpun tidak terprediksi sebelumnya.

Peristiwa ini tidak hanya menyangkut aku pribadi, ada orang lain yang terlibat di dalamnya. Tapi bagaimanapun, itu merupakan tanggung jawabku. Seperti pepatah, tidak ada prajurit yang salah. Komandan yang harus bertanggung jawab.

Kalau menurutkan kemauan sih, inginnya nggak peduli. Tapi aku tahu pasti, hal itu tidak menyelesaikan masalah. Malah menambah ruwet. Harus ada yang bergerak buat menanggulanginya. Alhamdulillah Allah masih memberikan kekuatan untuk tersenyum. Bersama-sama dengan temanku, kami berusaha mencari pemecahannya dengan riang, walaupun kepala kami pusing tujuh keliling, .hehe…

Pelajaran besar dari peristiwa ini adalah “Jangan menunda-nunda sesuatu”. Ketika kita diberi amanah, sedapat mungkin diselesaikan sesegera mungkin. Jika kita tidak sanggup atau menemui kesulitan, alangkah baiknya segera membicarakannya dengan teman yang sekiranya bisa membantu. Tapiiii,…jangan minta bantuan di waktu sudah mepet dimana kita sudah tidak bisa ngapa-ngapain, sama saja dengan bohong…ya nggak???

Semoga kami bisa mengambil hikmahnya dari semua kejadian ini. Pasti ada kebaikan dibalik semua peristiwa yang terjadi. Allah tidak mungkin berbuat dzalim kepada kita. Hanya kita nya yang harus berbenah, introspeksi diri. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan kami. Amiin.

Hari ini dapat “sentilan” dari Mas Amri. Seperti bercanda tapi maknanya dalam. Isinya seperti ini:

RENUNGAN BAGI ORANG SIBUK

Jika anda sangat sibuk, mengapa anda tidak kaya?

Jika anda sangat sibuk, mengapa naik pangkat / jabatan hanya suatu barang langka?

Jika anda sangat sibuk, mengapa masih mengontrak rumah?

Jika anda sangat sibuk, mengapa masih menumpang angkutan umum?

Jika anda sangat sibuk, mengapa hanya sepasang kursi dan meja di ruang tamu?

Jika anda sangat sibuk, mengapa menumpuk hutang / tagihan yang harus dibayar?

Jika anda sangat sibuk, mengapa bangun pagi anda merasakan tidak pernah ada kemarin?

Jika anda sangat sibuk, mengapa keluarga anda tidak pernah merasakan arti dan kehadiran anda bagi mereka?

Jika anda sangat sibuk, mengapa keluarga anda tersesat mencari rumah anda karena setiap tetangga yang ditunjukkan secarik kertas berisi nama anda kemudian mengadakan tidak tahu?

Jika anda sangat sibuk, mengapa anda masih belum yakin masa depan anda?

Jadi sebetulnya untuk apakah kesibukan yang anda lakukan setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan bahkan setiap tahun itu?

Sambil merenungkan pertanyaan yang terakhir mohon diingat-ingat sudah berapa tahunkah usia anda saat ini?

Lirik & Lagu   :  Jay Rimbu Voice

Arr.Music       :  Hendra

Arr.Vocal       :  Erwin Syakura

Album Mashagi (Hanya Kepada Mu)

Tak ingin lagi ulangi kesalahan

yang dulu pernah dan selalu kulakukan

yang menyiksa raga dan menoreh luka jiwa

Tak sanggup lagi ku rebahkan diri

pada hamparan onak yang penuh duri

menafaki fana..menghamba pada dunia

Reff:

Wahai jiwa…kemanakah kaki ini

kau bawa berlari…?

menuju indahkah atau bara api?

Duhai jiwa…sanggupkan kau bawa raga

menghadap yang Maha…?

hingga raih syurga, kala jasad tiada

Saat fikirku lelah tuk mencari

jalan menuju ridha-nya Illahi

kubiarkan hati, yang mencari jati diri

Oh Illahi…bolehkah rebahkan lelah

di atas megahnya, singgasana terindah

Maha kasih-Mu….

agar aku…merasakan damai ini

dalam dekapan-Mu

di bawah percikan dzikir malaikat-Mu

(lagu yang sangat kusuka, dan jadi renungan)

“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan ku ukir didalam hatiku

Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa”

Masih ingat lagu itu? Ya, lagu “Hymne Guru” yang luar biasa. Pengorbanan para guru dalam mencerdaskan kehidupan anak didiknya. Itu yang kudapatkan dari Film Laskar Pelangi yang akhirnya bisa kutonton hari Ahad kemarin bersama adik-adikku. Begitu pun, betapa keterbatasan fasilitas dan kehidupan tidak berarti jika disitu ada nyala api semangat dari anak-anak untuk belajar dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Sungguh beruntung diberi kesempatan menonton film itu. (Ada yang mau ngajak nonton lagi?..hehe..)

Berbicara tentang guru, jadi ingat beberapa orang guru yang menjadi motivator bagiku. Salah satunya adalah Ibu Mien Suminar alm. Beliau masuk ketika aku kelas enam di sebuah SD Inpres di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota Bandung.  Aku adalah angkatan pertama di sekolah itu. Hanya ada tiga bangunan kelas sederhana dan sebuah kantor guru. Tanpa ada pagar di sekelilingnya.

Ibu Mien adalah guru pindahan dari sebuah sekolah kristen yang terkenal di kota Bandung. Di awal kehadiran beliau, kami kurang menyukainya. Di mata kami beliau adalah guru yang sangat galak, disiplin dan tegas. Sampai-sampai adik-adik kelasku sempat merencanakan untuk demo..heuheu…

Namun perlahan tapi pasti pandangan kami berubah. Walaupun masih tetap tegas dan disiplin, tapi satu sama lain sudah saling tahu tentang apa yang kami inginkan. Dari pola yang diajarkan oleh beliau, kami menjadi terbiasa untuk menghapal setiap harinya dan bertanggung jawab atas pemeliharaan kelas kami.

Aku benar-benar menikmati satu tahun pelajaranku. Terpacu untuk menjadi yang terbaik. Ibu Mien selalu menyemangati kami semua, khususnya aku dan sahabatku yang sekaligus menjadi sainganku dalam belajar. Yang kusuka dari beliau adalah tidak pernah pilih kasih dan bisa dijadikan tempat bertanya.

Ada pengalaman berkesan, ketika aku dan 10 orang sahabatku bolos sekolah untuk ikut Jambore pramuka di daerahku. Bu Mien marah besar karena kami tidak minta izin, hadiahnya?….di setrap di depan kelas selama satu jam pelajaran,.hiks…., Ketika bertemu teman-temanku senasibku setelah lulus, sering kami saling bercerita tentang hal ini, dan selalu ada senyum disana mengingat kebandelan kami dulu. Maaf ya bu!

Ah,..mengingat perjuangan para guru selalu mendatangkan rasa haru dalam hatiku. Bukan hanya guru-guru di sekolah, tapi juga dalam keseharianku. Tak terhitung jasa orang-orang di sekitarku yang menjadikanku seperti sekarang ini. Hanya terima kasih dan doa untuk mereka atas segala kebaikannya. Semua Allah membalas dengan balasan yang terbaik. Amin.