“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir didalam hatiku
Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa”
Masih ingat lagu itu? Ya, lagu “Hymne Guru” yang luar biasa. Pengorbanan para guru dalam mencerdaskan kehidupan anak didiknya. Itu yang kudapatkan dari Film Laskar Pelangi yang akhirnya bisa kutonton hari Ahad kemarin bersama adik-adikku. Begitu pun, betapa keterbatasan fasilitas dan kehidupan tidak berarti jika disitu ada nyala api semangat dari anak-anak untuk belajar dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Sungguh beruntung diberi kesempatan menonton film itu. (Ada yang mau ngajak nonton lagi?..hehe..)
Berbicara tentang guru, jadi ingat beberapa orang guru yang menjadi motivator bagiku. Salah satunya adalah Ibu Mien Suminar alm. Beliau masuk ketika aku kelas enam di sebuah SD Inpres di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota Bandung. Aku adalah angkatan pertama di sekolah itu. Hanya ada tiga bangunan kelas sederhana dan sebuah kantor guru. Tanpa ada pagar di sekelilingnya.
Ibu Mien adalah guru pindahan dari sebuah sekolah kristen yang terkenal di kota Bandung. Di awal kehadiran beliau, kami kurang menyukainya. Di mata kami beliau adalah guru yang sangat galak, disiplin dan tegas. Sampai-sampai adik-adik kelasku sempat merencanakan untuk demo..heuheu…
Namun perlahan tapi pasti pandangan kami berubah. Walaupun masih tetap tegas dan disiplin, tapi satu sama lain sudah saling tahu tentang apa yang kami inginkan. Dari pola yang diajarkan oleh beliau, kami menjadi terbiasa untuk menghapal setiap harinya dan bertanggung jawab atas pemeliharaan kelas kami.
Aku benar-benar menikmati satu tahun pelajaranku. Terpacu untuk menjadi yang terbaik. Ibu Mien selalu menyemangati kami semua, khususnya aku dan sahabatku yang sekaligus menjadi sainganku dalam belajar. Yang kusuka dari beliau adalah tidak pernah pilih kasih dan bisa dijadikan tempat bertanya.
Ada pengalaman berkesan, ketika aku dan 10 orang sahabatku bolos sekolah untuk ikut Jambore pramuka di daerahku. Bu Mien marah besar karena kami tidak minta izin, hadiahnya?….di setrap di depan kelas selama satu jam pelajaran,.hiks…., Ketika bertemu teman-temanku senasibku setelah lulus, sering kami saling bercerita tentang hal ini, dan selalu ada senyum disana mengingat kebandelan kami dulu. Maaf ya bu!
Ah,..mengingat perjuangan para guru selalu mendatangkan rasa haru dalam hatiku. Bukan hanya guru-guru di sekolah, tapi juga dalam keseharianku. Tak terhitung jasa orang-orang di sekitarku yang menjadikanku seperti sekarang ini. Hanya terima kasih dan doa untuk mereka atas segala kebaikannya. Semua Allah membalas dengan balasan yang terbaik. Amin.